Gawe Urip ( 4 Ritual Penting Adat Wetu Telu, Sasak Lombok )

Author:
Gawe Urip ( 4 Ritual Penting Adat Wetu Telu, Sasak Lombok ): Masyarakat Wetu Telu di Lombok tepatnya di Lombok Utara, Nusa tenggara Barat memiliki banyak ritual adat namun hal siklus kehidupan mereka memiliki 4 Ritual penting yang mesti dilakukan, Disebut sebagai Gawe Urip.

Dalam ritual “Gawe Urip” terdiri dari rangkaian ritual yang satu dengan lainnya saling berhubungan, di antaranya ritual buang au (upacara kelahiran), ritual ngurisang (potong rambut), ritual ngitanang (khitanan), dan ritual merosok (meratakan gigi).

Berikut penjelasan secara singkat untuk setiap ritual adat Gawe Urip masyarakat Wetu Telu Lombok Uatara,
Praja Mulud Didandani di Kampu Bayan Barat
Ritual buang au.
Ritual ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membersihkan setiap bayi yang baru lahir ke dunia, karena setiap bayi yang lahir dipercaya membawa dosa orang tuanya di masa lalu. Ritual ini terdiri dari dua tahap, yaitu bedak keramas dan doa kiai. Bedak keramas adalah ramuan yang terdiri dari santan kelapa, darah ayam dan sembek yang ditaruh di dalam tempurung kelapa. Cara menggunakan ramuan tersebut adalah dengan cara dioleskan di kening bayi dan orangtuanya.

Pengolesan ramuan tersebut merupakan simbol pembersihan bagi sang bayi agar kehadirannya dapat diterima oleh alam semesta. Setelah bedak keramas selesai kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan kiai dan tokoh-tokoh adat. Setelah acara makan selesai, acara diakhiri dengan doa kiai. Dalam doanya sang kiai memohon kepada Sang Pencipta agar jabang bayi yang baru saja lahir diberikan berkah yang melimpah. Selain itu, kiai juga menghadirkan arwah para leluhur untuk menyaksikan kelahiran si jabang bayi dan memberikan berkah kepadanya.

Ritual ngurisang.
Ngurisang adalah upacara pemotongan rambut kepala setelah seorang anak mencapai usia antara 1 sampai 7 tahun. Ngurisang selanjutnya diikuti dengan molang malik atau upacara pemotongan umbak kombong (secarik kain yang ditenun dari benang bayan, benang yang diwarnai secara organik). Ngurisang dan molang malik adalah simbolisasi pengislaman seorang anak, karena sebelumnya anak masih dalam kondisi boda atau belum Islam. Dalam kepercayaan orang Bayan, arwah para leluhur juga hadir dalam upcara ini untuk memberikan berkah kepada anak yang baru di-Islamkan.

Ritual ngitanang.

Dalam ajaran Wetu Telu, anak wajib dikhitan setelah berusia antara 3 sampai 10 tahun. Sama seperti ngurisang, ngitanang juga merupakan simbol pengislaman seorang anak. Seorang anak tetap boda sampai ia dikhitan.

Ritual merosok.
Merosok adalah upacara yang menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Upacara yang dipimpin oleh seorang kiai adat ini berupa proses penghalusan gigi bagian depan anak laki-laki dan gadis remaja. Makna simbolis di balik upacara ini belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, upacara ini adalah bagian dari upacara pembersihan sang anak agar kehadirannya di dunia selalu dalam keadaan bersih.

Sumber: MataramNews dengan judul " Pelaksanaan Ritual Adat Wetu Telu di Bayan "
gambar : Praja Mulud Didandani di Kampung Bayan Barat

Gawe Urip ( 4 Ritual Penting Adat Wetu Telu, Sasak Lombok )

Mungkin anda Juga ingin tahu :

Jadwal PPDB 2011-2012 SMP dan SMA/SMK Negeri Di Mataram,Lombok,NTB